Jumat, 26 September 2014

Panggilan Tuhan terhadap Mahasiswa Teologi Untuk Melayani

Lembaga Pendidikan tinggi teologia sebenarnya sudah cukup lama dikenal oleh kalangan jemaat Kristen awam. Namun tidak seperti sekolah-sekolah sekular pada umumnya, sekolah tinggi teologia sering sekali kurang diminati. Salah satu penyebabnya adalah karena dalam masyarakat  modern saat  ini (khususnya Orang Percaya) telah beredar isu-isu yang keliru, sehingga  kebanyakan masyarakat Kristen menganggap bahwa sekolah teologia hanya merupakan semacam tujuan “cadangan” saja, dimana jika target sekolah sekuler yang diminati  tidak tercapai maka sekolah teologia menjadi alternatif pilihan terakhir.  Alangkah tragisnya jika hal ini benar!. Akan tetapi penulis bersyukur bahwa hal tersebut tentulah tidak seluruhnya benar. Walaupun harus diakui bahwa masih ada beberapa mahasiswa teologia yang memilih untuk masuk sekolah teologia dengan sudut pandang demikian, namun tentu hal tersebut tidaklah mewakili dari keseluruhan para mahasiswa yang ada. Untuk membenahi hal tersebut maka Penulis merefleki ulang  tentang prinsip utama dari seorang Hamba Tuhan. Prinsip utama tersebut adalah “panggilan”.  Kesadaran tentang makna dari panggilan tersebut yang mejadi sumber permasalahannya. Dengan demikian,  “Panggilan Allah” merupakan prinsip dasar yang perlu diperhatikan, baik bagi para calon mahasiswa, mahasiswa, maupun gereja. Karena tanpa “panggilan”, seorang calon mahasiswa maupun mahasiswa tidak akan mampu bertahan baik dalam proses studinya maupun ketika dalam dunia pelayanan. Untuk itu, “Panggilan” merupakan pondasi utama dalam rangka membangun suatu pelayanan yang kuat serta berkenan dihadapan Tuhan.
Panggilan Allah kepada seseorang merupakan karunia atas diri manusia  yang pada akhirnya manusia tersebut menjalankan panggilan tersebut sebagai bukti konkret dari pemahamannya terhadap panggilan yang mengacu pada seluruh kehidupannya.
Berbeda halnya dengan seorang tokoh Alkitab yang luar biasa yaitu Yeremia, ketika dia dipanggil TUHAN untuk menjadi seorang nabi (1:5).Memang ada kesulitan yang dialami Yeremia. Katanya:“Sesungguhnya aku ini tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda”(ayat 6).kata-kata inimengingatkan penulis pada usaha Musa untuk melarikan diri dari kesulitan menjalankan tugas seorang nabi (Kel. 4 : 10-13). Musa memberikan berbagai alasan kepada TUHAN agar jangan diberi tugas untuk menuntun bangsa Israel. Di sini pun Yeremia berusaha untuk mencari alasan agar ia tidak diberi perutusan untuk menjadi utusan TUHAN bagi bangsa terpilih. Ia menyampaikan alasan bahwa ia tidak pandai berbicara karena masih terlalu muda.
Tetapi apa yang terjadi?  Tuhan mengetahui rancangan-rancangan bangsa Israel (Yer. 29:11) lewat nabi Yeremia, bahwa Bangsa Israel akan mengalami masa kejayaan, karena muncul seorang raja yang besar, dan rakyatnya makmur sejahtera. Orang Israel sendiri memang memimpikan kejayaan kekal bagi ras mereka.Jadi, kalau Tuhan yang sudah memanggil tidak ada satupun yg dapat menolaknya, dengan alasan apapun.Panggilan Yeremia sebagai nabi oleh prakarsa Allah bertujuan untuk melanjutkan karya Allah pada manusia serta menunjukkan bahwa Allah tidak sekalipun meninggalkan manusia di dunia ini. Karena Tuhan berdaulat atas panggilan itu, akhirnya Yeremia menerima panggilan tersebut.
Makna “panggilan” yang lebih tegas juga dinyatakan ketika Tuhan Yesus memanggil para Murid-Nya. Dengan jelas Ia sudah mengungkapkan pengorbanan yang harus mereka lakukan untuk memenuhi panggilan itu. Ia mengatakan,
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat. 16:24).

Lebi lanjut Ia mengatakan,

"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. (Luk. 14:26-27)

Namun masalah yang kerapkali muncul adalah Mahasiswa Teologiaseringkali kurang memahami serta memaknai panggilan Tuhan dalam dirinya. Pemahaman yang dangkal tentang panggilan  tersebut secara otomatis memberikan dampak juga dalam tugas pelayanan yang diemban. Dampak yang Penulis maksudkan adalah timbulnya anggapan yang keliru dimana mahasiswa teologi melihat tugas pelayanan serta panggilan sebagai suatu beban berat yang harus dipikul dalam kehidupannya.


Hal ini mempunyai tujuan untuk mendorong mahasiswa lebih lagi serius untuk meresponi panggilan Tuhan dengan baik-baik dan mengapdikan diri sepenuhnya.dan mahasiswa mengerti dengan benar arti sebuah panggilan yang akhirnya dapat membangkitkan semangat para mahasiswa dalam proses pendidikan sebagai upaya atau langkah awal dalam memenuhi panggilan Tuhan sebagai pelayan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar