Lembaga Pendidikan tinggi teologia sebenarnya sudah cukup lama dikenal oleh kalangan jemaat Kristen awam. Namun tidak
seperti sekolah-sekolah sekular pada umumnya, sekolah tinggi teologia sering sekali kurang diminati. Salah satu
penyebabnya adalah karena dalam masyarakat modern saat
ini (khususnya Orang Percaya) telah beredar isu-isu yang keliru, sehingga kebanyakan masyarakat Kristen menganggap bahwa sekolah teologia hanya merupakan
semacam tujuan “cadangan” saja, dimana jika
target sekolah sekuler yang diminati tidak tercapai maka
sekolah teologia menjadi alternatif pilihan terakhir. Alangkah tragisnya jika hal ini benar!. Akan tetapi penulis bersyukur bahwa hal tersebut tentulah tidak seluruhnya benar. Walaupun harus diakui bahwa masih ada beberapa mahasiswa teologia yang memilih
untuk masuk sekolah teologia dengan
sudut pandang demikian, namun tentu hal tersebut tidaklah mewakili
dari keseluruhan para
mahasiswa yang ada. Untuk membenahi hal tersebut maka Penulis merefleki ulang tentang prinsip utama dari seorang
Hamba Tuhan. Prinsip utama tersebut adalah “panggilan”. Kesadaran tentang makna dari
panggilan tersebut yang mejadi sumber permasalahannya. Dengan
demikian, “Panggilan Allah” merupakan prinsip dasar yang perlu diperhatikan, baik bagi para calon mahasiswa, mahasiswa,
maupun gereja. Karena tanpa “panggilan”, seorang calon mahasiswa maupun mahasiswa
tidak akan mampu bertahan baik dalam proses studinya maupun ketika dalam dunia
pelayanan. Untuk itu, “Panggilan” merupakan pondasi utama dalam rangka membangun
suatu pelayanan yang kuat serta berkenan dihadapan Tuhan.
Panggilan
Allah kepada seseorang merupakan karunia atas diri manusia yang pada akhirnya manusia tersebut
menjalankan panggilan tersebut sebagai bukti konkret dari pemahamannya
terhadap panggilan yang mengacu pada seluruh kehidupannya.
Berbeda halnya dengan seorang tokoh
Alkitab yang luar biasa yaitu Yeremia, ketika dia dipanggil TUHAN untuk menjadi
seorang nabi (1:5).Memang ada kesulitan yang dialami Yeremia. Katanya:“Sesungguhnya aku ini tidak pandai berbicara, sebab aku ini
masih muda”(ayat 6).kata-kata
inimengingatkan penulis pada usaha Musa untuk melarikan
diri dari kesulitan menjalankan tugas seorang nabi (Kel. 4 : 10-13). Musa memberikan
berbagai alasan kepada TUHAN agar jangan diberi tugas untuk menuntun bangsa
Israel. Di sini pun Yeremia berusaha untuk mencari alasan agar ia tidak diberi
perutusan untuk menjadi utusan TUHAN bagi bangsa terpilih. Ia menyampaikan
alasan bahwa ia tidak pandai berbicara karena masih terlalu muda.
Tetapi apa yang terjadi? Tuhan mengetahui
rancangan-rancangan bangsa Israel (Yer. 29:11) lewat nabi Yeremia, bahwa Bangsa Israel
akan mengalami masa kejayaan, karena muncul seorang
raja yang besar, dan rakyatnya makmur sejahtera. Orang Israel sendiri memang
memimpikan kejayaan kekal bagi ras mereka.Jadi, kalau Tuhan yang sudah memanggil tidak ada
satupun yg dapat menolaknya, dengan alasan apapun.Panggilan Yeremia sebagai nabi oleh prakarsa Allah
bertujuan untuk melanjutkan karya Allah pada manusia serta menunjukkan bahwa
Allah tidak sekalipun meninggalkan manusia di dunia ini. Karena Tuhan
berdaulat atas panggilan itu, akhirnya Yeremia menerima panggilan tersebut.
Makna “panggilan” yang lebih tegas juga dinyatakan
ketika Tuhan Yesus memanggil para Murid-Nya. Dengan jelas Ia sudah
mengungkapkan pengorbanan yang harus mereka lakukan untuk memenuhi panggilan
itu. Ia mengatakan,
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus
menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat.
16:24).
Lebi lanjut Ia mengatakan,
"Jikalau seorang datang kepada-Ku
dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya,
saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak
dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia
tidak dapat menjadi murid-Ku”. (Luk.
14:26-27)
Namun
masalah yang kerapkali muncul adalah Mahasiswa Teologia”seringkali kurang memahami serta
memaknai panggilan Tuhan dalam dirinya. Pemahaman yang dangkal tentang panggilan tersebut secara otomatis memberikan dampak
juga dalam tugas pelayanan yang diemban. Dampak yang Penulis maksudkan adalah timbulnya
anggapan yang keliru dimana mahasiswa teologi melihat tugas pelayanan serta panggilan sebagai
suatu beban berat yang harus dipikul dalam kehidupannya.
Hal ini mempunyai tujuan untuk mendorong mahasiswa
lebih lagi serius untuk meresponi panggilan Tuhan dengan baik-baik dan
mengapdikan diri sepenuhnya.dan mahasiswa mengerti dengan benar
arti sebuah panggilan yang akhirnya dapat membangkitkan semangat para mahasiswa
dalam proses pendidikan sebagai upaya atau langkah awal dalam memenuhi
panggilan Tuhan sebagai pelayan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar